Archive for January, 2009

h1

my online shop..

January 19, 2009

hi friends…

sekarang online shop ku pindah k blogspot

so u can see my online shop at :

http://ernycool.blogspot.com/

okay…

udah ku link juga kok dengan nama :

ernycool online shop

yuk yuk diliat…

thx..

Advertisements
h1

happy tuesday

January 13, 2009

15 jam yg lalu….

woke up

ga jadi ke lppm

dan memutuskan ke bank untuk menabung

ke grapari membayar tagihan halo

ke speedy telkom membayar tagihan speedy

ke kantor polisi mengurus surat kehilangan buku tabungan

(hilang entah kemana karena penyakit lupa)

kembali ke bank untuk mengurus buku tabungan yang baru

yang ternyata harus membuat rekening baru… atm baru…

dan secara otomatis pembuatan atm baru..

(astaga itu berarti klo aku pesan atm baru dengan namaku, aku harus menungu 2 minggu, ya sudahlah itung-itung pengiritan biar ga gesek sana sini)

fiuhh.. akhirnya selesai juga.

Alone..

***
12 jam yg lalu..

menuju amplaz

nonton madagascar

foto box

lunch

(tapi ternyata makan sore, hehee..)

menunggu hujan reda

(still in amplaz)

and go home..

With my boyfriend…

***

6 jam yg lalu…

menyelesaikan tugasku

(fotografi desain)

Alone…

***

4,5 jam yg lalu…

cetak foto

(disertai salah cetak ukuran)

tetap sabar menunggu

dinner di pondok cabe.

With my boyfriend…

***

Hari yang penuh dengan berbagai aktivitas yg sempat tertunda beberapa hari yang lalu..

Tetapi hari ini sangat menyenangkan

karena menjadi hari ku dengan hari nya

i love this day..

happy tuesday

h1

Cinta Saat Ini

January 7, 2009
Cinta Saat Ini

Semalam, gue ngobrolin soal cinta. Soal yang udah lama banget gak pernah jadi topik yang menarik perhatian gue selama ini. Ini semua bermula karena gue baru kenalan sama seorang teman baru. Dia pada intinya curhat soal pengalaman cintanya, lika-liku asmaranya, bahkan masa lalu kekasihnya!

Gue mendengarkan dengan asiknya. Bahkan di kepala gue tergambar storyboard yang menarik. Setiap katanya seperti dalang dan gue pasrah untuk masuk dalam cerita cinta teman baru ini. Cerita cinta yang hampir gak pernah jadi bagian hidup gue, benar-benar mengasyikkan untuk didengar.

Bahkan bagian terburuk cerita cinta sekalipun, tetap menarik buat gue.

Di tengah keasyikan itu, jantung gue kayak berdebar ketakutan. Gue takut banget kalau kata-kata itu akan keluar. Sumpah mati gue gak mau. Tapi memang sepertinya sudah menjadi aturan tak tertulis sebuah pertemanan untuk balik bercerita. Untuk membuka diri. Kata-kata itu adalah “kalau loe gimana?”

Dengan kepala kosong dan tanpa niat apapun gue pun bercerita soal cerita cinta gue. Cerita yang begitu asing buat gue. Cerita yang dimulai sekitar 10 tahun silam ketika gue memutuskan bahwa lebih baik sendiri. Karena dengan sendiri, gue bisa lebih bebas untuk menjalani hidup. Lebih bebas untuk menjadi diri sendiri. Dan gue bisa dengan maksimal menjalani pekerjaan gue. Bersosialisasi. Semua tanpa batasan.

Sampai akhirnya dua tahun yang lalu, gue membuat sebuah teori berdasarkan pengalaman hidup gue. Banyak kenalan, rekan, klien, teman, teman dekat, yang ketika ia masih single saat usia mulai bertmnbah (40 tahun ke atas), berubah. Entah mengapa, mereka jadi begitu sinis terhadap kehidupan. Pahit, terhadap banyak hal. Semua hal di dunia ini salah dan kurang. Dan hanya dia lah yang paling benar dan sejati. Hanya dia yang tau segala hal. Yang lain itu bodoh. Yang lain itu dangkal.

Alih-alih bertambah bijaksana, gue melihat kegetiran hidup yang sepi.

Saya 35 tahun. Masih ada 5 tahun untuk berubah. Untuk ancang-ancang agar tidak jadi bagian dari itu semua.

“Coba deh mulai membagi hidup kamu dengan yang lain. Karena dengan berbagi kamu bisa lebih menikmati dan menghargai hidup” kata seorang ibu angkat ke gue ketika gue menceritakan kegelisahan gue ini. “Glenn gak mau jadi kayak gitu kalau tua nanti. I want to grow old graciously. Glenn pengen lebih bijaksana” begitu kata gue.

Dengan saran itu gue mulai mencoba membagi kehidupan gue dengan yang kurang beruntung. Yatim piatu, anak putus sekolah, pengemis dan lain-lain. Mengajar di sana-sini kalau pas bisa. Secara teratur mendermakan sebagian penghasilan. Ternyata, kebaikan lain yang gue dapat. Kali ini gue berani jadi saksi:

“The more you give, the more you get!”

Entah siapa yang pernah bilang begitu. Tapi itu benar-benar terjadi. Rezeki, rahmat, anugerah, seolah tak pernah berhenti mengalir dari Tuhan. Dan lidah seperti gak pernah cukup untuk bilang Alhamdulillah.

Dua tahun berjalan, namanya manusia, gak pernah ada puasnya. Gue merasa gue tetap perlu teman hidup. Teman untuk berbagi hidup gue. Gue gak perlu untuk jatuh cinta sama dia. Tapi gue perlu untuk bisa berbagi hidup gue dengannya.

Demikian gue mengakhiri cerita cinta gue.

Gue gak lagi cari orang untuk jatuh cinta.

Tapi gue lagi cari orang untuk berbagi hidup gue.

Itu lebih dari cukup untuk gue.

Saat ini.

(post by Glenn Marsalim at Glenn Marsalim’s Notes)

(jan,7th 2009 at 4:31pm)

(http://www.facebook.com/home.php?#/note.php?note_id=53890846677&ref=nf)